Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

BAB I - ARTI PENTINGNYA ORGANISASI DAN METODE



TEORI ORGANISASI UMUM 1

BAB I

Arti Pentingnya Organisasi dan Metode

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Teori Organisasi Umum 1


Disusun oleh:
Shifa Awaliyah (18113444)
2KA17

FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
JURUSAN SISTEM  INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA



BAB I

Arti Pentingnya Organisasi dan Metode


1. Pengertian Organisasi
Apakah arti organisasi? organisasi dapat diartikan sebagai kumpulan beberapa orang yang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu. Organisasi dalam bentuk apapun akan selalu ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi merupakan unsur yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat dengan beberapa alasan, seperti organisasi digunakan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin dapat kita lakukan sendirian, dengan bekerja sama individu-individu dapat menyelesaikan tugas-tugas yang apabila dikerjkan seorang diri tidak akan tercapai, organisasi dapat menyediakan pengetahuan yang berkesinambungan serta dapat menjadi sumber karier yang penting.
Selayaknya sebuah organisasi seharusnya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi anggota organisasi maupun masyarakat sehingga organisasi mampu mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Secara umum organisasi dibedakan atas dua bentuk, pertama organisasi dengan orientasi laba seperti perusahaan yang menyediakan produk barang atau jasa (baik perusahaan besar maupun kecil) kemudian organisasi nirlaba atau yang tidak berorientasi laba seperti yayasan, musium, rumah sakit milik pemerintah, sekolah, perkumpulan sosial dan lain-lain.
Apapun bentuk organisasi itu diperlukan usaha-usaha untuk mengelola kegiatan dan orang-orang maupun unsur lainnya yang ada didalam organisasi agar tercapai tujuan dengan lebih baik.

2. Organisasi dan Manajemen
Semua bentuk organisasi dimana orang-orang bekerja bersama mencapai tujuan yang telah ditetapkan, membutuhkan manajemen. Manajemen diperlukan organisasi agar usaha pencapaian tujuan menjadi lebih mudah.
Secara spesifik ada tiga alasan utama dibutuhkannya manajemen dalam organisasi, yaitu:
1. Mencapai tujuan, manajemen mempermudah pencapaian tujuan organisasi dan pribadi.
2. Menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan, manajemen menyeimbangkan tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan yang saling bertentangan di antara pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi (stakeholders) seperti pemilik, karyawan, konsumen, pemasok dan lain-lain.
3. Mencapai efisiensi dan efektifitas, efisiensi dan efektifitas merupakan ukuran prestasi organisasi.

Menurut Peter Drucker efisiensi adalah melakukan pekerjaan dengan benar (doing thing right) dan efektifitas adalah melakukan pekerjaan yang benar (doing the right thing).
Efisiensi merupakan kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan benar, berkaitan dengan biaya-biaya yang ditimbulkan dalam melakukan aktivitas. Mengukur biaya dari sumber daya yang diperlukan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Sedangkan efektivitas merupakan kemampuan memilih alat yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, berkaitan dengan melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan dan merupakan ukuran tentang pencapaian suatu tugas atau tujuan. Sejauh mana tugas atau tujuan telah dicapai.
Yang dimaksud dengan Efisiensi adalah menyelesaikan pekerjaan dengan usaha, biaya, atau pemborosan yang minimum. Jadi efisiensi adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan benar. Sedangkan Efektivitas adalah penyelesaian tugas-tugas yang membantu pencapaian sasaran organisasi atau bisa juga dikatakan efektivitas adalah kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat/melakukan pekerjaan yang benar.

Kerja merupakan kegiatan yang menghasilkan nilai bagi orang lain maupun diri sendiri. Bekerja dengan baik sehingga mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan diri sendiri mengarahkan organisasi terhadap kebutuhan manajemen.

Segala yang terjadi dalam proses mencapai tujuan tadi memerlukan pengelolaan. Disinilah manajemen masuk dalam organisasi. Dalam kalimat yang sederhana, manajemen berarti juga proses mengatur segala hal dalam organisasi. Manajemen, menurut Robbins, memiliki beberapa fungsi yang harus dilakukannya dalam mengelola organisasi:

      1.   Perencanaan
      2.   Pengorganisasian
      3.   Kepemimpinan
      4.   Pengendalian


Fungsi perencanaan meliputi menentukan tujuan organisasi, menetapkan suatu strategi keseluruhan untuk mencapai tujuan, dan mengembangkan suatu hirarki rencana yang menyeluruh untuk memadukan dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan.

Fungsi pengorganisasian merupakan tanggung jawab dalam perancangan struktur organisasi. Fungsi ini mencakup penetapan tugas-tugas apa yang harus dilakukan, siapa yang harus melakukan, bagaimana tugas-tugas itu dikelompokkan, siapa melapor kepada siapa, di mana keputusan harus diambil.

Semua organisasi terdiri dari orang-orang, dan adalah tugas manajemen untuk mengarahkan dan mengkoordinasi mereka. Inilah fungsi kepemimpinan. Saat mereka memotivasi bawahan, mengarahkan kegiatan orang lain, memilih saluran komuniakasi yangpaling efektif, atau memecahkan konflik antara anggota, mereka itu sedang melaksanakan kepemimpinan.

Fungsi pengendalian merupakan fungsi yang terakhir. Setelah tujuan-tujuan ditentukan, rencana-rencana dirumuskan, pengaturan struktural digambarkan, dan orang-orang dipekerjakan, dilatih, dan dimotivasi, masih ada kemungkinan bahwa ada sesuatu yang keliru. Untk memastikan bahwa semua urusan berjalan seperti seharusnya, manajemen harus memantau kinerja organisasi. Kinerja yang sebenarnya harus dibandingkan dengan tujuan-tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Jika terdapat penyimpangan yang cukup berarti, adalah tugas manajemen utnuk mengembalikan organisasi itu pada jalurnya. Pemantauan, pembandingan, dan kemungkinan mengoreksi inilah yang diartikan dengan fungsi pengendalian

3. Manajemen dan Tata Kerja

Tata kerja atau metode adalah satu cara bagaimana (how) agar sumber – sumber dan waktu yang tersedia dan amat diperlukan dapat dimanfaatkan dengan tepat sehingga proses kegiatan manajemen dapat dilaksanakan dengan tepat pula. Dengan tata kerja yang tepat mengandung arti bahwa proses kegiatan pencapaian tujuan sudah dilakukan secara ilmiah dan praktis, disamping itu pemakaian tata kerja yang tepat pada pokoknya ditujukan untuk :
a. Menghindari terjadinya pemborosan di dalam penyalahgunaan sumber-sumber dan waktu yang tersedia.
b. Menghindari kemacetan-kemacetan dan kesimpangsiuran dalam proses pencapaian tujuan.
c. Menjamin adanya pembagian kerja, waktu dan koordinasi yang tepat.
Jadi hubungan antara manajemen dan tat kerja dapat dilukiskan seperti dibawah ini :
Manajemen : Menjelaskan perlunya ada proses kegiatan dan pendayagunaan sumber-sumber serta waktu sebagai factor-faktor yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan demi tercapainya tujuan.
Tata Kerja : Menjelaskan bagaimana proses kegiatan itu harus dilaksanakan sesuai dengan sumber-sumber dan waktu yang tersedia.

4. Manajemen, Organisasi dan Tata Kerja

Manajemen, Organisasi, dan Tata Kerja
Eratnya hubungan atau hubungan timbal balik antara ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut :
a) Manajemen : Proses kegiatan pencapaian tujuan melalui kerja sama antar manusia.
b) Organisasi : Alat bagi pencapaian tujuan tersebut dan alat bagi pengelompokkan kerja sama.
c) Tata kerja : Pola cara-cara bagaimana kegiatan dan kerjasama tersebut harus dilaksanakan sehingga tujuan tercapai secara efisien.
Dari konsep tersebut, jelaslah bahwa baik manajemen, organisasi maupun tata kerja ketiganya diarahkan kepada tercapainya tujuan.


REFERENSI

Amrine, Harold (1986). Manajemen dan Organisasi Produksi . Jakarta: Penerbit Erlangga.
Herwito, Yayat M (2001). Dasar-Dasar Manajemen.Jakarta:Grasindo.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BAB VI - PRINSIP-PRINSIP MORAL MEMBANGUN PRIBADI YANG KUAT

Tugas Softskill

Ilmu Budaya Dasar

 

BAB VI

PRINSIP-PRINSIP MORAL
MEMBANGUN PRIBADI YANG KUAT

 

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Sosial Dasar

Disusun oleh:

Shifa Awaliyah (18113444)

1KA07

FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI

JURUSAN SISTEM  INFORMASI

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

 


PRINSIP-PRINSIP MORAL
MEMBANGUN PRIBADI YANG KUAT



BAB I
PENDAHULUAN


1.1Latar Belakang



Marilah kita melihat sebentar kembali jalan yang sudah kita lalui sampai disini. Kita bertolak dari kenyataan bahwa kita bebas. Kebebasan yang diberikan masyarakat kepada kita, kebebasan sosial, hanya merupakan ruang bagi kebebasan untuk menentukan diri kita sendiri, kebebasan eksistensial. Berhadapan dengan berbagai fihak yang mau menetapkan bagaimana kita harus mempergunakan kebebasan kita ini, kita dalam suara hati menyadari bahwa akhirnya kita sendirilah yang harus mengambil keputusan tentang apa yang harus kita lakukan. Kita sendirilah yang harus bertanggung jawab atas tindakan kita. Tidak ada orang yang dapat menghapus kenyataan ini. Dalam etika normatif kita melihat prinsip-prinsip dasar obyektif terhadapnya kita harus mempertanggung jawabkan kebebasan kita.

Kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun keberadaaan manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah-pecah dalam fungsi-fungsi. Memahami kepribadian berarti memahami aku, diri, self atau memahami manusia seutuhnya. Hal terpenting yang harus diketahui berkaitan dengan pemahaman kepribadian adalah bahwa pemahaman itu sangat dipengaruhi paradigma yang dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan teori itu sendiri. Para ahli kepribadian ternyata meyakini paradigma yang berbeda-beda, yang mempengaruhi secara sistematik seluruh pola pemikirannya tentang kepribadian manusia. Paradigma itu pada sebagian ahli kepribadian dikemukakan dengan tegas, pada sebagian yang lain paradigmanya tersamar dan dikenali melalui metode analisisnya.



1.2    Rumusan Masalah


1.      Apa saja sikap yang perlu kita kembangkan agar mendapatkan kekuatan moral?
2.      Bagaimana kemandirian dan keberanian moral ?
3.      Apakah lingkungan berpengaruh terhadap kepribadian?





1.3     Tujuan Penulisan

1.      Memberikan wawasan kepada pembaca mengenai prinsip moral membentuk kepribadian yang kuat
2.      Menyadarkan kepada pembaca pentingnya moral mempengaruhi kepribadian.
3.      Mumbuhkan rasa cinta kepada terhadap diri sendiri.
4.      Memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1      Prinsip-Prinsip Yang Bisa Diandalkan

·         Cinta kasih

            Kasih itu bukanlah nafsu seksual. Itu juga bukan sekadar perasaan. Itu adalah sifat yang didasarkan atas prinsip. Jika kita punya sifat kasih, kita akan bersedia menolong orang yang sedang kesulitan, sekalipun kita tidak kenal orang itu. Kita juga akan melakukannya dengan ikhlas.

·         Kebaikan hati dan sifat suka memberi


Andaikan kebahagiaan yang bertahan lama bisa dibeli di toko,” kata sebuah artikel dari Greater Good Science Center di University of California, Berkeley, Amerika Serikat. ”Sebenarnya bisa, asalkan barang yang kita beli adalah untuk orang lain.” Maksudnya, kita akan lebih bahagia jika kita suka memberi.

·         Kejujuran

Dalam suatu lingkup masyarakat yang beradab, prinsip kejujuran harus ada. Jika tidak, mereka akan terus hidup dalam kekhawatiran, kecurigaan, dan kebobrokan sosial.





2.2       Kemandirian dan Keberanian Moral
Kemandirian moral berarti bahwa kita tak pernah ikut-ikutan saja dengan berbagai pandangan moral dalm lingkungan kita, melainkan selalu membentuk penilaian dan pendirian sendiri dan bertindak sesuai dengannya.
Kemandirian moral adalah kekuatan batin untuk mengambil sikap moral sendiri dan untuk bertindak sesuai dengannya. Mandiri secara moral berarti bahwa kita tidak dapat “di beli” oleh mayoritas, bahwa kita tidak akan pernah rukun hanya demi kebersamaan kalau kerukunan itu melanggar keadilan.
Sikap mandiri pada hakekatnya merupakan kemampuan untuk selalu membentuk penilaian terhadap suatu masalah moral. Kemandirian merupakan keutamaan intelektual dan koqnitif. Sebagai ketekatan dalam bertindak sikap mandiri di sebut keberanian moral.
Keberanian moral menunjukkan diri dalam tekat untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban, walaupun tidak disetujui atau secara aktif dilawan oleh lingkungan.
Orang yang berani secara moral akan membuat pengalaman yang menarik. Setiap kali ia berani mempertahankan sikap yang diyakini, ia merasa lebih kuat dan berani dalam hatinya, dalam arti bahwa ia semakin dapat mengatasi perasaan takut dan malu yang sering mencekam dia. Ia merasa lebih mandiri. Ia memberikan semangat dan kekuatan berpijak bagi mereka yang lemah, yang menderita akibat kezaliman pihak-pihak yang kuat dan berkuasa.

2.3      PERAN LINGKUNGAN DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN
Meskipun genetik memepengaruhi kepribadian seseorang, namun lingkungan paling banyak mempengaruhi kepribadian seseorang. Dan keluargalah lingkungan pertama yang mempengaruhi kepribadian anak, anak akan menyimak apa yang terjadi di lingkungan anak, antara lain cara bicara, cara marah, cara bertengkar, de el el. Tanpa disadari perilaku orang tua akan direkam oleh anak dengan sangat baik, sehingga semua perilaku baik yang disadari atau tidak, akan menjadi didikan orang tua terhadap anak.
Orang tualah yang harus membuat anak menjadi sholeh, alim, cerdas, berkarakter, berbudaya, memiliki sopan, rasa kasih, dermawan, dan perilaku lain yang sudah dinilai baik oleh agama dan budaya. Jika anak sudah memiliki karakter yang kuat, sekuat apapun pengaruh negatif dari luar rumah dapat diatasi oleh anak, walaupun terjadi kebimbangan atau benturan moral, anak tersebut akan berkomunikasi dengan baik oleh keluarganya karena keluarga yang berkarakter, salah satu cirinya memiliki komunikasi yang baik.
Media hiburan yang ditonton oleh si buah hati juga harus diseleksi sepaya tidak memberikan dampak negatif terhadap perkembangan moral anak. Dengan demikian jika ada siswa bermasalah, tidak lain dan tidak bukan, sumber masalahnya ada di rumah, sehingga menyelesaikan masalah tidak cukup di sekolah saja tanpa melibatkan orang tua. Untuk itu orang tua juga harus dituntut untuk tahu banyak dan terlibat banyak dalam mendidik anak.
Orang tua juga harus mengawasi pergaulan anak dalam lingkungan bermain, dan wajib memberikan bimbingan jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Selain itu sekolah juga sangat penting artinya dalam pengembangan kepribadian siswa.  kalau gitu pernah tidak dengar istilah ini” guru kencing berdiri, murid kencing berlompat tinggi”. Pasti pernah dengar. Untuk perilaku negatif sebenarnya tidak diajarkan di sekolah, dan pasti hal ini didapat dari luar sekolah, yaitu dari lingkungan bermain dan lingkungan keluarga. Misalnya kekerasan dalam rumah tangga, ketidakharmonisan rumah tangga, pergaulan bebas, salah memilih teman, atau salah memilih media hiburan seperti internet, akan membentuk  prilaku atau pribadi yang negatif.



BAB III
PENUTUP

 3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa prinsip moral merupakan komponen penting didalam sebuah kehidupan khususnya dalam kehidupan masyarakat dan setiap individu diwajibkan mempunyai moral yang yang baik karena sangat dibutuhkan dalam membentuk kepribadian yang kuat dalam menjalani senuah tantangan hidup yang berliku-liku.




3.2 Referensi






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS